Sabtu, 25 Agustus 2012

Dokumentasi Training JFI :"Teknik Marketing yang Efektif" di Hotel Mercure, Pontianak 17 Juli 2012

Dengan mengambil tempat di Ruang Jelutung, Hotel Mercure Pontianak, telah dilaksanan pelatihan JFI tentang :"Teknik Marketing yang Efektif" pada Selasa 17 Juli 2012. Adapun latar belakang pelaksanaan pelatihan ini bahwa tantangan penyelenggaraan bisnis BPR saat ini maupun masa yang akan datang, jauh lebih berat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Oleh karenanya, diperlukan teknik marketing yang efektif  untuk mendukung realisasi rencana kerja BPR, serta untuk memastikan peningkatan kiberja, daya saing dan kesinambungan usaha.
Sedangkan tujuan pembelajaran pada pelatihan ini bagi peserta adalah 1) mampu menerapkan 4 dasar teknik marketing yang efektif; 2) mampu melaksanakan 5 Prinsip teknik marketing; 3) mampu menyelaraskan dasar  dan prinsip teknik marketing dengan 5 faktor pendukung; 4) mampu memformulasikan dan mengelola target penjualan secara efektif; 5) mampu merealisasikan target penjualan secara personal maupun pada bagian institusional; 6)Mampu melakukan evaluasi kinerja penjualan secara berkesinambungan.
(Kardi Jfi/Training Leader JFI).  

Selasa, 21 Agustus 2012

DOKUMENTASI TRAINING JFI :"PENYUSUNAN KEBIJAKAN PERKREDITAN BPR" DI HOTEL BANJARMASIN INTERNATIONAL, BANJARMASIN 14 JULI 2012.

Pada 14 Juli 2012 di Ruang Bongenvil, Hotel Banjarmasin International (HBI), telah dilaksanakan pelatihan :"Penyusunan Kebijakan Perkreditan BPR" dengan instruktur Kardi JFI. Latar belakang dari pelatihan ini bahwa sesuai dengan ketentuan pasal 27A PBI No.13/26/PBI/2011 tentang Perubahan atas PBI No.8/19/PBI/2006 tentang Kualitas Aktiva Produktif dan Pembentukan PPAP BPR, setiap BPR wajib menyampaikan Pedoman Kebijakan . Perkreditan BPR kepada Bank Indonesia.
Sedangkan tujuan instruksional pelatihan ini adalah Peserta : 1)   Mampu memahami latar belakang penyusunan Pedoman Kebijakan Perkreditan BPR; 2)  Mampu memahami prinsip kehati-hatian dalam Perkreditan; 3)  Mampu memahami organisasi dan manajemen perkreditan;4)  Mampu memahami kebijaksanaan Persetujuan Kredit; 5) Mampu memahami Dokumentasi dan Administrasi Kredit; 6)  Mampu memahami Pengawasan Kredit; 7)  Mampu memahami Penyelesaian Kredit Bermasalah (Restrukturisasi, AYDA, Hapus Buku, Hapus Tagih Kredit); 8)   Mampu menyusun Draf Pedoman Kebijakan Perkreditan BPR.
(*Kardi Jfi/Training Leader JFI). 

Dokumentasi Training JFI :"Personal Expanding bagi SDM BPR" di Ruang Hilde, Hotel Nalendra, Bandung, 14 Juli 2012

Pada Sabtu 14 Juli 2012, telah dilaksanakan pelatihan JFI dengan judul :"Personal Expanding bagi SDM BPR" di Ruang Hilde, Hotel Nalendra, Bandung, dengan instruktur Subhan Rizky. Adapun latar belakang dilaksanakannya pelatihan ini adalah  untuk membuka kesadaran baru bagi peserta,  bagaimana cara berpikir dan berperasaan yang memberdayakan dan optimal serta meningkatkan produktifitas, tanggung jawab, integritas, kreatifitas (attitude) dan peningkatan kemampuan personal/pribadi karyawan untuk peningkatan kinerja BPR.

Sedangkan manfaat pelatihan ini bagi BPR adalah 1.    Menyadari Kekuatan/Potensi yang ada dalam diri dan bagaimana cara mengembangkannya; 2.    Memahami  Tanggung Jawab dan memanfaatkan Tanggung Jawab untuk Produktifitas Tinggi; 3.    Meningkatkan Kesadaran akan pentingnya Integritas Tinggi; 4.    Mampu mengelola Pikiran dan melatih Perasaan untuk Kinerja Puncak; 5.    Mampu  menjadi Pribadi yang Berdaya Guna dan Kreatif/Inovasi; 6.    Mampu  menjadi Pemimpin bagi Diri Sendiri; 7.    Mampu Membangun Pribadi  yang Tangguh.
( Kardi JFI/Training Leader JFI )

Sabtu, 28 Juli 2012

DOKUMENTASI TRAINING JFI :"ANALISA KREDIT UNTUK PERORANGAN & UMKM” DI RUANG MARULITUA, HOTEL NALENDRA BANDUNG 7 JULI 2012

Pada sabtu 7 Juli 2012, bertempat di ruang Marulitua, Hotel Nalendra, Bandung, telah dilaksanakan pelatihan :"Analisa Kredit untuk Perorangan dan UMKM". Latar belakang pelatihan ini  mengedepankan bahwa  kecenderungan perubahan lingkungan bisnis BPR mengindikasikan perlunya perubahan untuk menjadi lebih baik, termasuk didalamnya memastikan penanganan kredit atau aktiva produktif  dari awal. Lazimnya, dimulai dari awal dengan baik, pada umumnya dapat mendukung peningkatkan kinerja serta bisa menurunkan resiko kredit, sehingga tidak terlalu rumit dalam penagihan misalnya.


Sedangkan tujuan pembelajaran pada pelatihan ini terdiri dari beberapa hal, antara lain :

-          Mampu memahami karakteristik Kredit untuk Perorangan dan UMKM;
-          Mampu memahami keterkaitan analisa kredit dengan manajemen perkreditan;
-          Mampu memahami persyaratan kredit;
-          Mampu menetapkan jangka waktu, plafond Kredit dengan penggunaan proyeksi Cash Flow dalam kegiatan analisa kredit;
-          Mampu menilai dan atau menganalisa komponen yang terkait dengan keputusan kredit;
-          Mampu memahami keterkaitan antara analisa kredit dengan monitoring, penagihan  dan pelunasan kredit.
-     Mampu melakukan wawancara untuk penyusunan proyeksi data keuangan nasabah   atau Calon Nasabah dan untuk mendapatkan informasi lainnya yang dibutuhkan dalam analisa kredit.
(Untuk Informasi training JFI = Jakarta Financial Institute, baik reguler maupun inhouse training, bisa dihubungi melalui nomor : 081318967743).

Jumat, 27 Juli 2012

Budaya Organisasi BPR : Perlu untuk Peningkatan Kinerja, Daya Saing dan Sustainability


Budaya Organisasi  BPR : Perlu untuk Peningkatan Kinerja, 
Daya Saing dan Sustainability
Oleh : Kardi Jfi*
            Sebetulnya ada 3 pilar yang dapat berperan untuk mentransformasikan visi dan misi BPR, yaitu strategi, struktur dan kultur organisasi BPR. Strategi adalah cara BPR mencapai visi dan misi, sedangkan struktur organisasi merupakan bentuk dari organisasi BPR untuk mencapai visi dan Misi. Adapun yang dimaksud dengan kultur organisasi adalah tindakan yang benar untuk mencapai tujuan. Misalnya budaya organisasi BPR Supra Artha Persada dikenal dengan sebutan CERDAS : Cepat Efektif Ramah Disiplin Akrab & berSahabat dan TACTICS yaitu: T (Truth = kejujuran), A (Active = aktif), C (Confidence  = percaya diri), T (Time = waktu), I (Initiative = inisiatif), C ( Communication = komunikasi), S (Science = ilmu pengetahuan).
Unsur budaya organisasi BPR KS misalnya : 1. Bersikap mental positif; 2. Selalu meningkatkan profesionalisme;3. Memiliki Integritas tinggi 4. Menciptakan lingkungan kerja yang positif; 5. Pemberdayaan (empowerment); 6. Mampu kerja dalam “team work” dengan bagian yang terkait. Adapun bagian dari budaya organisasi BPR Lestari dikenal dalam 7 nilai, yaitu Care, Honest, Perpection, Positive, Energy, Anthusiasm, dan Knowledge.
Tak dapat dipungkiri, kalau diamati penyusunan rencana kerja atau rencana bisnis BPR, masih ada beberapa BPR yang terkesan kurang memperhatikan faktor  budaya organisasi, padahal sesungguhnya manfaat budaya organisasi tak kalah pentingnya dengan strategi dan struktur organisasi BPR. Kalau diperhatikan landasan penyusunan Rencana Kerja BPR, sebagaimana yang diatur pada SK Dir BI No.31/60/Kep/Dir tertanggal 9 Juli 1998, maka substansi penyusunan Rencana Kerja masih berfokus pada strategi maupun struktur organisasi.
Apa saja manfaat budaya organisasi BPR ?  Menurut Robbins (2001:294) ada beberapa manfaat  budaya dalam suatu organisasi yaitu (1) budaya mempunyai suatu peran menetapkan tapal batas, artinya budaya menciptakan perbedaan yang  jelas antara suatu organisasi dengan organisasi lainnya; (2) budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi; (3) budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang  lebih luas dari kepentingan diri individu seseorang; (4) budaya untuk meningkatkan kemantapan sistem sosial; dan (5) budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang  memandu dan membentuk sikap serta perilaku para pegawai/SDM.
Jadi, kalau dicermati manfaat tersebut, dapat dikatakan budaya organisasi BPR, diperlukan untuk Peningkatan Kinerja,  Daya Saing dan Sustainability BPR. Mengingat hal tersebut, ada baiknya BPR membentuk dan mengembangkan nilai-nilai budaya organisasi pada BPR
Dalam proses penyusunan rencana bisnis BPR, supaya dapat mendorong peningkatan efektivitas budaya organisasi, tentunya ada beberapa yang perlu diperhatikan. Sebagian diantaranya, pertama, perasaan identitas seluruh karyawan terhadap BPR. Seperti yang telah diketahui, budaya organisasi, akan membedakan BPR yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dalam penyusunan rencana bisnis BPR, khususnya di sisi strategi manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) atau learning & growth, maka eskalasi perasaan yang bangga dari seluruh karyawan dan afiliasi terhadap identitas atau unsur-unsur budaya organisasi BPR perlu direncanakan dengan baik.
Kedua, konsistensi implementasi nilai kultur di semua lini organisasi. Sebelum finalisasi   rencana bisnis, maka perlu dievaluasi konsistensi penerapan unsur budaya, di semua lini organisisasi BPR pada periode sebelumnya. Pada lini yang masih memerlukan penguatan, dilakukan program aksi yang relevan.
Ketiga, efektivitas kultur inovasi, kreativitas dan keterbukaan akan ide-ide baru. Lingkungan bisnis BPR menyatakan hal tersebut sangat dibutuhkan untuk eskalasi daya saing, kinerja dan kesinambungan usaha BPR, maka efektivitasnya pada masa selanjutnya perlu diperhatikan BPR dalam rencana bisnisnya.
Keempat, kultur adaptasi. Memperhatikan perkembangan usaha BPR dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas untuk beradaptasi dalam lingkungan bisnis yang telah masuk dalam persaingan yang tinggi, perlu ditingkatkan.
Kelima, motivasi. Motivasi seluruh SDM BPR di semua lini, sebagai bagian dari komponen dari kultur organisasi, dalam penuangannya dalam strategi  rencana bisnis BPR, tidak hanya pada ukuran atas imbalan uang dan non uang lagi, tetapi perlu mentransformasikannya ke kualitas yang lebih tinggi, yang berubah menjadi nilai atau value bagi setiap SDM BPR, misalnya motivasi dari dalam diri setiap SDM untuk memikirkan dan melakukan yang terbaik bagi BPR.
Akhirnya, dengan dimasukkannya budaya organisasi dalam rencana bisnis BPR, maka ia akan dapat menjadi padanan yang sinergis dengan pilar strategi dan struktur organisasi, dalam mendukung penggenapan visi dan misi BPR, baik saat ini maupun pada masa yang akan datang.
(*Penulis adalah Training Leader JFI = Jakarta Financial Institute, Email = jfipusat@gmail.com, Hp. 081318967743)

Sabtu, 21 Juli 2012

Dokumentasi Training JFI : ”Penerapan Hipnoterapi untuk Meningkatkan Produktivitas SDM BPR” di Ruang Usakirana, Hotel Nalendra, Jakarta 7 Juli 2012


Pemanfatan hipnoterapi untuk pengelolaan SDM di berbagai perusahaan telah banyak dilakukan. Di samping dapat meningkatkan produktivitas, secara spesifik penerapan hipnoterapi dapat meningkatkan loyalitas SDM kepada perusahaan, menurunkan absensi karyawan, menurunkan Turnover Karyawaan, menurunkan biaya untuk pemeliharaan kesehatan SDM, dan lain-lain. Berangkat dari hal tersebut pada Sabtu 7 Juli 2012 Jakarta Financial Institute (JFI) telah menyelenggarakan pelatihan :”Penerapan Hipnoterapi untuk Meningkatkan Produktivitas SDM BPR” di Ruang Usakirana, Hotel Nalendra, Jakarta Timur.
Ada beberapa  tujuan instruksional pembelajaran pada modul pelatihan ini, yaitu :
-          Mampu memahami pemanfaatan hipnoterapi untuk poduktivitas SDM BPR, seperti menghilangkan mental blok, meningkatkan rasa percaya diri, membangun motivasi, mengatasi masalah pribadi, membangun hubungan baik dengan nasabah & rekan kerja, dan lain-lain;
-          Mampu menjadi pribadi yang unggul dan bernilai;
-          Mampu berkomunikasi secara efektif baik untuk kepentingan internal maupun eksternal;
-          Mampu memahami hukum kekuatan pikiran bawah sadar dan mentransformasikannya untuk peningkatkan produktivitas;
-          Mampu melakukan komunikasi persuasi secara tidak langsung menuju ke alam  sadar komunikan, terutama dalam menyampaikan produk dan jasa BPR (***KP)

Informasi tentang Training JFI dapat menghubungi
Sdri. Yanti Mandasari (Telp. 0852822445739; Fax. 021-5808084; Email = jfipusat@gmail.com)


Rabu, 18 Juli 2012

BPR : Komputerisasi pada Bisnis BPR


Komputerisasi pada Bisnis BPR
Oleh : Kardi Jfi*
Salah satu dari lembaga usaha finansial yang masih perlu melakukan pengkajian dan penerapan pengembangan komputerisasi atau perubahan dari manual ke digital dalam kegiatan usahannya adalah BPR atau Bank Perkreditan Rakyat.
Sebagai bagian dari bisnis keuangan, BPR memiliki ciri khas, yaitu banyak transaksi tetapi dengan margin yang relatif kecil. Oleh karena itu, maka penyedia produk software maupun hardware yang terkait dengan komputerisasi pada BPR haruslah menyediakan dan mengembangkan produk yang relevan.
Transformasi dari manual ke komputerisasi pada bisnis BPR, baik saat ini maupun pada masa yang akan datang, bukan hanya merupakan sebuah keinginan lagi, tetapi sudah merupakan sebuah keharusan atau kebutuhan. Dengan menerapkan Teknologi Informasi (TI) yang berkembang pada usaha BPR, maka dapat mendukung kinerja, daya saing dan kelangsungan BPR.
Sebagai contoh, turunya nilai penjaminan dana pihak ketiga , seperti Deposito di Bank Umum, akan memberi angin segar bagi BPR, karena suku bunga penjaminan dana pihak ketiga, seperti Deposito di BPR, masih lebih tinggi. Hanya supaya cenderung bisa dipercaya, maka BPR dalam menjalankan kegiatan usahanya perlu terlebih dahulu didukung dengan TI. Analisa gap –maturity profile dana pihak ketiga akan lebih cepat dan akurat dilakukan BPR bila menerapkan perkembangan TI. Termasuk tentunya ketika melakukan costing dan pricing.
Bagaimana implikasi penerapan TI di BPR ? Tentu tidak lepas dari implikasi peranan perubahan TI itu sendiri. Marilah kita lihat implikasi perubahan TI atau Komputerisasi  sebagaimana ditulis Hammer dan Champy (Reenginering the Corporation, A Manifesto for Business Revolution, 1994). Pertama, pangkalan data. Informasi berubah dari muncul di satu tempat – satu waktu menjadi banyak tempat secara simultan, seperti teknologi ATM, E-mail, Facebook.
Kedua, sistem kepakaran. Pakar yang dapat menyelesaikan pekerjaan rumit digantikan generalis yang menyelesaikan pekerjaan pakar.
Ketiga, jaringan telekomunikasi. Pilihan dari desentralisasi atau sentralisasi berubah menjadi desentralisasi dan sentralisasi.
Keempat, model perangkat lunak. Pengambilan semua keputusan oleh manager digantikan oleh bagian dari pekerjaan setiap orang.
Kelima, telepon tanpa kawat. Informasi yang hanya dapat dikirim dari suatu kantor berubah menjadi dapat dikirim dan manapun juga.
Keenam, jaringan video interaktif. Kontak dengan pelanggan berubah dari harus dicari menjadi tersedia dimana saja.
Ketujuh, identifikasi otomatis. Informasi tntang sesuatu berubah dari harus dicari menjadi tersedia dimana saja.
Kedelapan, kecepatan perhitungan. Revisi perencanaan kerja berubah dari periode menjadi setiap saat.
Berangkat dari implikasi TI tersebut, maka dapat dikatakan supaya penerapannya berlangsung efektif dan aman, maka pengurus atau SDM BPR perlu menjalankan beberapa upaya, sebagai bagian dari strategi transformasi dari manual ke komputerisasi (digital). Apa saja upaya yang dimaksudkan ? Sebagian diantaranya akan dikedepankan pada uraian berikut.
Pertama, rumuskan tujuan implementasi TI. Manajemen di BPR harus terlebih dahulu merumuskan tujuan implementasi TI atau Komputerisasi, yang rinciannya dituangkan dalam rencana kerja dan anggaran. Rencana berisikan langkah-langkah dan jadual khusus untuk mengimplementasikan strategi. Sedangkan anggaran merupakan aktivitas dari rencana yang diubah menjadi proyeksi finansial dan tujuan. Termsuk didalamnya, penggunaan SDM (Sumber Daya Manusia), yang secara rinci dituangkan dalam Action Plan implementasi.
Formulasi dan penetapan tujuan tersebut, ada juga kaitannya dengan jenis TI yang diterapkan. Bila penerapan TI di BPR diharapkan dapat mengelola transaksi secara on line, maka diterapkanlah konsep software yang dapat mengakomodir on line.
Kedua, pastikan terlebih dahulu rincian hardcopy sistem manual. Jika menerapkan TI, maka pastikan munualnya sudah ada. Sesungguhnya sistem manuallah yang dipindahkan ke proses komputerisasi atau digital. Jangan coba-coba menerapkan TI atau software di BPR sebelum ada hard copy manualnya. Sebelum diterapkan, dipastikan seluruh SDM yang terkait dengan proses bisnis BPR, dapat memahami dan mampu menjalankan manual sistem yang diterapkan, baik yang terkait dengan operasional, perkreditan, sistem akuntansi, set up, laporan keuangan (closing), dan lain-lain. Kenapa ? Karena bisnis BPR harus melindungi dana dari masyarakat. Di BPR hampir 85% uang yang ada adalah dana masyarakat, sehingga product liability software yang digunakan haruslah dapat dipastikan dapat memproses semua aktivutas usaha BPR secara akurat.
Ketiga, strategi outsoursing. Pada umumnya BPR yang menerapkan TI adalah menempu jalan outsoursing atau melalui vendor, karena untuk membangun sendiri  software banyak yang telah menelan mega dana. Sebelum menetapkan vendor yang dijadikan sebagai mitra dalam implementasi, maka ada baiknya dilakukan seleksi minimal dari 3 vendor atau kandidat.  Supaya sukses dalam menjalankan implementasi, maka perlu dicari bancmark software atau dicari model dari masing-masing vendor TI yang diajak bermitra, apakah di BPR lain sudah benar-benar dapat dijalankan dengan handal dan aman serta lancar.
Dalam menetapkan vendor sebagai mitra, maka perlu terlebih dahulu menuangkan kesepakatan implementasi dalam Perjanjian Pemakaian, Pembelian dan Implementasi Software, yang secara rinci mengatur hak dan kewajiban para pihak. Dalam perjanjian tersebut dirumuskan penyelesaian masalah atau konflik yang ada sehubungan dengan implementasi, seperti, penyelesaian secara musyawarah dan mufakat, menyelesaian melalui arbitrase atau melalui penyelesaian melalui court atau pengadilan tempat  dimana pembeli dan penjual memilih domisili hukum.
Keempat, pelatihan. Hal-hal yang terkait dengan software BPR yang mau diterapkan, maka didahului atau diiringi dengan pelatihan kepada SDM yang terkait. Pelatihan-pelatihan yang dimaksudkan disamping memiliki sasaran untuk aspek peningkatan kompetensi pengetahuan dan ketrampilan, juga dapat merealisasikan kompetensi di bidang sikap atau attitude di bidang penerapan TI, seperti integritas dari SDM terkait untuk memperlakukan data secara positif dan konfidensial, atau menyadari bahwa dengan penerapan TI didapatkan kondisi yang jauh lebih baik dalam berkarier di BPR pada masa-masa selanjutnya.
Kelima, mengelola manajemen perubahan. Transformasi  dari manual ke digital atau komputerisasi di BPR, membutuhkan sentuhan dari strategi mengelola perubahan. Tak dapat dipungkiri, bisa saja ada beberapa SDM yang menolak perubahan, baik karena alasan psikologis, sosiologis, maupun rasional. Pengurus BPR harus mampu memotivasi dan menularkan urgensi atau visi perubahan transformasi dari manual ke digital atau ke habit TI di BPR, dan visi itu harus dapat mengarahkan dan menuntun seluruh SDM mencapai perubahan tersebut.
Keenam, vendor TI sebagai mitra BPR. Para vendor yang menjadi mitra BPR dalam mengelola penerapan dan pengembangan TI, sudah sebaiknya bisa mengakomodir kebutuhan dan perkembangan terbaru di BPR dalam software yang digunakan, seperti akomodasi berbagai peraturan yang terkait dengan pengelolaan BPR, seperti Prinsip mengenal Nasabah (pengelompokan resiko nasabah, pembuatan dan pengkinian profil nasabah), SID, Laporan-Laporaan Keuangan BPR, Restrukturisasi Kredit, Penerapan Transparansi, BMPK, dan lain-lain serta implementasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan Perbankan, seperti SAK ETAP, PA BPR.
(*Penulis adalah Training Leader JFI atau Jakarta Financial Institute, E-mail : jfipusat@gmail.com, Telp. 081318967743)