Dengan mengambil tempat di Ruang Jelutung, Hotel Mercure Pontianak, telah dilaksanan pelatihan JFI tentang :"Teknik Marketing yang Efektif" pada Selasa 17 Juli 2012. Adapun latar belakang pelaksanaan pelatihan ini bahwa tantangan
penyelenggaraan bisnis BPR saat ini maupun masa yang akan datang, jauh lebih
berat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Oleh karenanya, diperlukan teknik
marketing yang efektif untuk mendukung realisasi rencana kerja BPR,
serta untuk memastikan peningkatan kiberja, daya saing dan kesinambungan usaha.
Sedangkan tujuan pembelajaran pada pelatihan ini bagi peserta adalah 1) mampu menerapkan 4 dasar
teknik marketing yang efektif; 2) mampu melaksanakan 5
Prinsip teknik marketing; 3) mampu menyelaraskan
dasar dan prinsip teknik marketing
dengan 5 faktor pendukung; 4) mampu memformulasikan
dan mengelola target penjualan secara efektif; 5) mampu merealisasikan
target penjualan secara personal maupun pada bagian institusional; 6)Mampu melakukan evaluasi kinerja penjualan
secara berkesinambungan.
(Kardi Jfi/Training Leader JFI).
Sabtu, 25 Agustus 2012
Selasa, 21 Agustus 2012
DOKUMENTASI TRAINING JFI :"PENYUSUNAN KEBIJAKAN PERKREDITAN BPR" DI HOTEL BANJARMASIN INTERNATIONAL, BANJARMASIN 14 JULI 2012.
Pada 14 Juli 2012 di Ruang Bongenvil, Hotel Banjarmasin International (HBI), telah dilaksanakan pelatihan :"Penyusunan Kebijakan Perkreditan BPR" dengan instruktur Kardi JFI. Latar belakang dari pelatihan ini bahwa sesuai
dengan ketentuan pasal 27A PBI No.13/26/PBI/2011 tentang Perubahan atas PBI
No.8/19/PBI/2006 tentang Kualitas Aktiva Produktif dan Pembentukan PPAP BPR,
setiap BPR wajib menyampaikan Pedoman Kebijakan . Perkreditan BPR kepada Bank
Indonesia.
Sedangkan tujuan instruksional pelatihan ini adalah Peserta : 1) Mampu memahami latar belakang penyusunan Pedoman Kebijakan Perkreditan BPR; 2) Mampu memahami prinsip kehati-hatian dalam Perkreditan; 3) Mampu memahami organisasi dan manajemen perkreditan;4) Mampu memahami kebijaksanaan Persetujuan Kredit; 5) Mampu memahami Dokumentasi dan Administrasi Kredit; 6) Mampu memahami Pengawasan Kredit; 7) Mampu memahami Penyelesaian Kredit Bermasalah (Restrukturisasi, AYDA, Hapus Buku, Hapus Tagih Kredit); 8) Mampu menyusun Draf Pedoman Kebijakan Perkreditan BPR.
(*Kardi Jfi/Training Leader JFI).
Sedangkan tujuan instruksional pelatihan ini adalah Peserta : 1) Mampu memahami latar belakang penyusunan Pedoman Kebijakan Perkreditan BPR; 2) Mampu memahami prinsip kehati-hatian dalam Perkreditan; 3) Mampu memahami organisasi dan manajemen perkreditan;4) Mampu memahami kebijaksanaan Persetujuan Kredit; 5) Mampu memahami Dokumentasi dan Administrasi Kredit; 6) Mampu memahami Pengawasan Kredit; 7) Mampu memahami Penyelesaian Kredit Bermasalah (Restrukturisasi, AYDA, Hapus Buku, Hapus Tagih Kredit); 8) Mampu menyusun Draf Pedoman Kebijakan Perkreditan BPR.
(*Kardi Jfi/Training Leader JFI).
Dokumentasi Training JFI :"Personal Expanding bagi SDM BPR" di Ruang Hilde, Hotel Nalendra, Bandung, 14 Juli 2012
Pada Sabtu 14 Juli 2012, telah dilaksanakan pelatihan JFI dengan judul :"Personal Expanding bagi SDM BPR" di Ruang Hilde, Hotel Nalendra, Bandung, dengan instruktur Subhan Rizky. Adapun latar belakang dilaksanakannya pelatihan ini adalah untuk membuka kesadaran baru bagi
peserta, bagaimana cara
berpikir dan berperasaan yang memberdayakan dan optimal serta meningkatkan
produktifitas, tanggung jawab, integritas, kreatifitas (attitude) dan peningkatan kemampuan personal/pribadi karyawan untuk
peningkatan kinerja BPR.
Sedangkan manfaat pelatihan ini bagi BPR adalah 1. Menyadari Kekuatan/Potensi yang ada dalam diri dan bagaimana cara mengembangkannya; 2. Memahami Tanggung Jawab dan memanfaatkan Tanggung Jawab untuk Produktifitas Tinggi; 3. Meningkatkan Kesadaran akan pentingnya Integritas Tinggi; 4. Mampu mengelola Pikiran dan melatih Perasaan untuk Kinerja Puncak; 5. Mampu menjadi Pribadi yang Berdaya Guna dan Kreatif/Inovasi; 6. Mampu menjadi Pemimpin bagi Diri Sendiri; 7. Mampu Membangun Pribadi yang Tangguh.
( Kardi JFI/Training Leader JFI )
Sedangkan manfaat pelatihan ini bagi BPR adalah 1. Menyadari Kekuatan/Potensi yang ada dalam diri dan bagaimana cara mengembangkannya; 2. Memahami Tanggung Jawab dan memanfaatkan Tanggung Jawab untuk Produktifitas Tinggi; 3. Meningkatkan Kesadaran akan pentingnya Integritas Tinggi; 4. Mampu mengelola Pikiran dan melatih Perasaan untuk Kinerja Puncak; 5. Mampu menjadi Pribadi yang Berdaya Guna dan Kreatif/Inovasi; 6. Mampu menjadi Pemimpin bagi Diri Sendiri; 7. Mampu Membangun Pribadi yang Tangguh.
( Kardi JFI/Training Leader JFI )
Sabtu, 28 Juli 2012
DOKUMENTASI TRAINING JFI :"ANALISA KREDIT UNTUK PERORANGAN & UMKM” DI RUANG MARULITUA, HOTEL NALENDRA BANDUNG 7 JULI 2012
Pada sabtu 7 Juli 2012, bertempat di ruang Marulitua, Hotel Nalendra, Bandung, telah dilaksanakan pelatihan :"Analisa Kredit untuk Perorangan dan UMKM". Latar belakang pelatihan ini mengedepankan bahwa kecenderungan perubahan lingkungan bisnis BPR mengindikasikan
perlunya perubahan untuk menjadi lebih baik, termasuk didalamnya memastikan
penanganan kredit atau aktiva produktif dari awal. Lazimnya, dimulai dari awal dengan
baik, pada umumnya dapat mendukung peningkatkan kinerja serta bisa menurunkan
resiko kredit, sehingga tidak terlalu rumit dalam penagihan misalnya.
Sedangkan tujuan pembelajaran pada pelatihan ini terdiri dari beberapa hal, antara lain :
(Untuk Informasi training JFI = Jakarta Financial Institute, baik reguler maupun inhouse training, bisa dihubungi melalui nomor : 081318967743).
Sedangkan tujuan pembelajaran pada pelatihan ini terdiri dari beberapa hal, antara lain :
-
Mampu memahami karakteristik Kredit untuk Perorangan dan
UMKM;
-
Mampu memahami keterkaitan analisa kredit dengan
manajemen perkreditan;
-
Mampu memahami persyaratan kredit;
-
Mampu menetapkan jangka waktu, plafond Kredit dengan
penggunaan proyeksi Cash Flow dalam kegiatan analisa kredit;
-
Mampu menilai dan atau menganalisa komponen yang terkait
dengan keputusan kredit;
-
Mampu memahami keterkaitan antara analisa kredit dengan
monitoring, penagihan dan pelunasan
kredit.
- Mampu
melakukan wawancara untuk penyusunan proyeksi data keuangan nasabah atau Calon
Nasabah dan untuk mendapatkan informasi lainnya yang dibutuhkan dalam analisa
kredit.(Untuk Informasi training JFI = Jakarta Financial Institute, baik reguler maupun inhouse training, bisa dihubungi melalui nomor : 081318967743).
Jumat, 27 Juli 2012
Budaya Organisasi BPR : Perlu untuk Peningkatan Kinerja, Daya Saing dan Sustainability
Budaya
Organisasi BPR : Perlu untuk Peningkatan Kinerja,
Daya Saing dan Sustainability
Oleh
: Kardi Jfi*
Sebetulnya ada 3 pilar yang dapat berperan untuk mentransformasikan visi dan
misi BPR, yaitu strategi, struktur dan kultur organisasi BPR. Strategi adalah
cara BPR mencapai visi dan misi, sedangkan struktur organisasi merupakan bentuk
dari organisasi BPR untuk mencapai visi dan Misi. Adapun yang dimaksud dengan
kultur organisasi adalah tindakan yang benar untuk mencapai tujuan. Misalnya
budaya organisasi BPR Supra Artha Persada dikenal dengan sebutan CERDAS :
Cepat Efektif Ramah Disiplin Akrab & berSahabat
dan TACTICS yaitu: T (Truth = kejujuran), A (Active = aktif), C
(Confidence = percaya diri), T (Time = waktu), I (Initiative =
inisiatif), C ( Communication = komunikasi), S (Science = ilmu pengetahuan).
Unsur budaya organisasi BPR KS
misalnya : 1. Bersikap mental positif; 2. Selalu meningkatkan
profesionalisme;3. Memiliki Integritas tinggi 4. Menciptakan lingkungan kerja
yang positif; 5. Pemberdayaan (empowerment); 6. Mampu kerja dalam “team work”
dengan bagian yang terkait. Adapun bagian dari budaya organisasi BPR Lestari
dikenal dalam 7 nilai, yaitu Care, Honest, Perpection, Positive, Energy,
Anthusiasm, dan Knowledge.
Tak dapat dipungkiri, kalau
diamati penyusunan rencana kerja atau rencana bisnis BPR, masih ada beberapa
BPR yang terkesan kurang memperhatikan faktor budaya organisasi, padahal
sesungguhnya manfaat budaya organisasi tak kalah pentingnya dengan strategi dan
struktur organisasi BPR. Kalau diperhatikan landasan penyusunan Rencana Kerja
BPR, sebagaimana yang diatur pada SK Dir BI No.31/60/Kep/Dir tertanggal 9 Juli
1998, maka substansi penyusunan Rencana Kerja masih berfokus pada strategi
maupun struktur organisasi.
Apa saja manfaat budaya
organisasi BPR ? Menurut Robbins (2001:294) ada beberapa manfaat
budaya dalam suatu organisasi yaitu (1) budaya mempunyai suatu peran
menetapkan tapal batas, artinya budaya menciptakan perbedaan yang jelas
antara suatu organisasi dengan organisasi lainnya; (2) budaya membawa suatu
rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi; (3) budaya mempermudah
timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas dari kepentingan diri
individu seseorang; (4) budaya untuk meningkatkan kemantapan sistem sosial; dan
(5) budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang
memandu dan membentuk sikap serta perilaku para pegawai/SDM.
Jadi, kalau dicermati manfaat
tersebut, dapat dikatakan budaya organisasi BPR, diperlukan untuk Peningkatan
Kinerja, Daya Saing dan Sustainability BPR. Mengingat hal tersebut, ada
baiknya BPR membentuk dan mengembangkan nilai-nilai budaya organisasi pada BPR
Dalam proses penyusunan rencana bisnis BPR, supaya dapat
mendorong peningkatan efektivitas budaya organisasi, tentunya ada beberapa yang
perlu diperhatikan. Sebagian diantaranya, pertama, perasaan identitas seluruh
karyawan terhadap BPR. Seperti yang telah diketahui, budaya organisasi, akan
membedakan BPR yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dalam penyusunan
rencana bisnis BPR, khususnya di sisi strategi manajemen Sumber Daya Manusia
(SDM) atau learning &
growth, maka eskalasi perasaan yang bangga dari seluruh karyawan dan
afiliasi terhadap identitas atau unsur-unsur budaya organisasi BPR perlu
direncanakan dengan baik.
Kedua, konsistensi implementasi
nilai kultur di semua lini organisasi. Sebelum finalisasi rencana
bisnis, maka perlu dievaluasi konsistensi penerapan unsur budaya, di semua lini
organisisasi BPR pada periode sebelumnya. Pada lini yang masih memerlukan
penguatan, dilakukan program aksi yang relevan.
Ketiga, efektivitas kultur
inovasi, kreativitas dan keterbukaan akan ide-ide baru. Lingkungan bisnis BPR
menyatakan hal tersebut sangat dibutuhkan untuk eskalasi daya saing, kinerja
dan kesinambungan usaha BPR, maka efektivitasnya pada masa selanjutnya perlu
diperhatikan BPR dalam rencana bisnisnya.
Keempat, kultur adaptasi.
Memperhatikan perkembangan usaha BPR dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas
untuk beradaptasi dalam lingkungan bisnis yang telah masuk dalam persaingan
yang tinggi, perlu ditingkatkan.
Kelima, motivasi. Motivasi
seluruh SDM BPR di semua lini, sebagai bagian dari komponen dari kultur
organisasi, dalam penuangannya dalam strategi rencana bisnis BPR, tidak
hanya pada ukuran atas imbalan uang dan non uang lagi, tetapi perlu
mentransformasikannya ke kualitas yang lebih tinggi, yang berubah menjadi nilai
atau value bagi setiap SDM BPR, misalnya motivasi dari dalam diri setiap SDM
untuk memikirkan dan melakukan yang terbaik bagi BPR.
Akhirnya, dengan dimasukkannya
budaya organisasi dalam rencana bisnis BPR, maka ia akan dapat menjadi padanan
yang sinergis dengan pilar strategi dan struktur organisasi, dalam mendukung
penggenapan visi dan misi BPR, baik saat ini maupun pada masa yang akan datang.
(*Penulis adalah Training Leader JFI = Jakarta Financial
Institute, Email = jfipusat@gmail.com,
Hp. 081318967743)
Sabtu, 21 Juli 2012
Dokumentasi Training JFI : ”Penerapan Hipnoterapi untuk Meningkatkan Produktivitas SDM BPR” di Ruang Usakirana, Hotel Nalendra, Jakarta 7 Juli 2012
Pemanfatan hipnoterapi untuk pengelolaan SDM
di berbagai perusahaan telah banyak dilakukan. Di samping dapat meningkatkan
produktivitas, secara spesifik penerapan hipnoterapi dapat meningkatkan
loyalitas SDM kepada perusahaan, menurunkan absensi karyawan, menurunkan
Turnover Karyawaan, menurunkan biaya untuk pemeliharaan kesehatan SDM, dan
lain-lain.
Berangkat dari hal tersebut pada Sabtu 7 Juli 2012 Jakarta Financial Institute
(JFI) telah menyelenggarakan pelatihan :”Penerapan Hipnoterapi untuk
Meningkatkan Produktivitas SDM BPR” di Ruang Usakirana, Hotel Nalendra, Jakarta
Timur.
Ada
beberapa tujuan instruksional pembelajaran
pada modul pelatihan ini, yaitu :
-
Mampu memahami
pemanfaatan hipnoterapi untuk poduktivitas SDM BPR, seperti menghilangkan mental blok, meningkatkan rasa percaya
diri, membangun motivasi, mengatasi masalah pribadi, membangun hubungan baik
dengan nasabah & rekan kerja, dan lain-lain;
-
Mampu menjadi pribadi yang unggul dan bernilai;
-
Mampu berkomunikasi secara efektif baik untuk kepentingan internal
maupun eksternal;
-
Mampu memahami hukum
kekuatan pikiran bawah sadar dan mentransformasikannya untuk peningkatkan
produktivitas;
-
Mampu melakukan komunikasi
persuasi secara tidak langsung menuju ke alam sadar
komunikan, terutama dalam menyampaikan produk dan jasa BPR (***KP)
Informasi tentang Training JFI dapat
menghubungi
Sdri. Yanti Mandasari (Telp. 0852822445739; Fax.
021-5808084; Email = jfipusat@gmail.com)
Rabu, 18 Juli 2012
BPR : Komputerisasi pada Bisnis BPR
Komputerisasi pada Bisnis BPR
Oleh : Kardi Jfi*
Salah satu dari lembaga usaha finansial yang masih perlu
melakukan pengkajian dan penerapan pengembangan komputerisasi atau perubahan
dari manual ke digital dalam kegiatan usahannya adalah BPR atau Bank
Perkreditan Rakyat.
Sebagai bagian dari bisnis keuangan, BPR memiliki ciri
khas, yaitu banyak transaksi tetapi dengan margin yang relatif kecil. Oleh
karena itu, maka penyedia produk software maupun hardware yang terkait dengan
komputerisasi pada BPR haruslah menyediakan dan mengembangkan produk yang
relevan.
Transformasi dari manual ke komputerisasi pada bisnis
BPR, baik saat ini maupun pada masa yang akan datang, bukan hanya merupakan
sebuah keinginan lagi, tetapi sudah merupakan sebuah keharusan atau kebutuhan.
Dengan menerapkan Teknologi Informasi (TI) yang berkembang pada usaha BPR, maka
dapat mendukung kinerja, daya saing dan kelangsungan BPR.
Sebagai contoh, turunya nilai penjaminan dana pihak
ketiga , seperti Deposito di Bank Umum, akan memberi angin segar bagi BPR, karena
suku bunga penjaminan dana pihak ketiga, seperti Deposito di BPR, masih lebih
tinggi. Hanya supaya cenderung bisa dipercaya, maka BPR dalam menjalankan
kegiatan usahanya perlu terlebih dahulu didukung dengan TI. Analisa gap
–maturity profile dana pihak ketiga akan lebih cepat dan akurat dilakukan BPR
bila menerapkan perkembangan TI. Termasuk tentunya ketika melakukan costing dan
pricing.
Bagaimana implikasi penerapan TI di BPR ? Tentu tidak
lepas dari implikasi peranan perubahan TI itu sendiri. Marilah kita lihat
implikasi perubahan TI atau Komputerisasi
sebagaimana ditulis Hammer dan Champy (Reenginering the Corporation, A
Manifesto for Business Revolution, 1994). Pertama, pangkalan data. Informasi
berubah dari muncul di satu tempat – satu waktu menjadi banyak tempat secara
simultan, seperti teknologi ATM, E-mail, Facebook.
Kedua, sistem kepakaran. Pakar yang dapat menyelesaikan
pekerjaan rumit digantikan generalis yang menyelesaikan pekerjaan pakar.
Ketiga, jaringan telekomunikasi. Pilihan dari desentralisasi
atau sentralisasi berubah menjadi desentralisasi dan sentralisasi.
Keempat, model perangkat lunak. Pengambilan semua
keputusan oleh manager digantikan oleh bagian dari pekerjaan setiap orang.
Kelima, telepon tanpa kawat. Informasi yang hanya dapat dikirim
dari suatu kantor berubah menjadi dapat dikirim dan manapun juga.
Keenam, jaringan video interaktif. Kontak dengan
pelanggan berubah dari harus dicari menjadi tersedia dimana saja.
Ketujuh, identifikasi otomatis. Informasi tntang sesuatu
berubah dari harus dicari menjadi tersedia dimana saja.
Kedelapan, kecepatan perhitungan. Revisi perencanaan
kerja berubah dari periode menjadi setiap saat.
Berangkat dari implikasi TI tersebut, maka dapat
dikatakan supaya penerapannya berlangsung efektif dan aman, maka pengurus atau
SDM BPR perlu menjalankan beberapa upaya, sebagai bagian dari strategi
transformasi dari manual ke komputerisasi (digital). Apa saja upaya yang
dimaksudkan ? Sebagian diantaranya akan dikedepankan pada uraian berikut.
Pertama, rumuskan tujuan implementasi TI. Manajemen di
BPR harus terlebih dahulu merumuskan tujuan implementasi TI atau Komputerisasi,
yang rinciannya dituangkan dalam rencana kerja dan anggaran. Rencana berisikan
langkah-langkah dan jadual khusus untuk mengimplementasikan strategi. Sedangkan
anggaran merupakan aktivitas dari rencana yang diubah menjadi proyeksi
finansial dan tujuan. Termsuk didalamnya, penggunaan SDM (Sumber Daya Manusia),
yang secara rinci dituangkan dalam Action Plan implementasi.
Formulasi dan penetapan tujuan tersebut, ada juga
kaitannya dengan jenis TI yang diterapkan. Bila penerapan TI di BPR diharapkan
dapat mengelola transaksi secara on line, maka diterapkanlah konsep software
yang dapat mengakomodir on line.
Kedua, pastikan terlebih dahulu rincian hardcopy sistem
manual. Jika menerapkan TI, maka pastikan munualnya sudah ada. Sesungguhnya
sistem manuallah yang dipindahkan ke proses komputerisasi atau digital. Jangan
coba-coba menerapkan TI atau software di BPR sebelum ada hard copy manualnya.
Sebelum diterapkan, dipastikan seluruh SDM yang terkait dengan proses bisnis
BPR, dapat memahami dan mampu menjalankan manual sistem yang diterapkan, baik
yang terkait dengan operasional, perkreditan, sistem akuntansi, set up, laporan
keuangan (closing), dan lain-lain. Kenapa ? Karena bisnis BPR harus melindungi
dana dari masyarakat. Di BPR hampir 85% uang yang ada adalah dana masyarakat,
sehingga product liability software yang digunakan haruslah dapat dipastikan
dapat memproses semua aktivutas usaha BPR secara akurat.
Ketiga, strategi outsoursing. Pada umumnya BPR yang
menerapkan TI adalah menempu jalan outsoursing atau melalui vendor, karena
untuk membangun sendiri software banyak
yang telah menelan mega dana. Sebelum menetapkan vendor yang dijadikan sebagai
mitra dalam implementasi, maka ada baiknya dilakukan seleksi minimal dari 3
vendor atau kandidat. Supaya sukses
dalam menjalankan implementasi, maka perlu dicari bancmark software atau dicari
model dari masing-masing vendor TI yang diajak bermitra, apakah di BPR lain
sudah benar-benar dapat dijalankan dengan handal dan aman serta lancar.
Dalam menetapkan vendor sebagai mitra, maka perlu
terlebih dahulu menuangkan kesepakatan implementasi dalam Perjanjian Pemakaian,
Pembelian dan Implementasi Software, yang secara rinci mengatur hak dan
kewajiban para pihak. Dalam perjanjian tersebut dirumuskan penyelesaian masalah
atau konflik yang ada sehubungan dengan implementasi, seperti, penyelesaian
secara musyawarah dan mufakat, menyelesaian melalui arbitrase atau melalui
penyelesaian melalui court atau pengadilan tempat dimana pembeli dan penjual memilih domisili
hukum.
Keempat, pelatihan. Hal-hal yang terkait dengan software
BPR yang mau diterapkan, maka didahului atau diiringi dengan pelatihan kepada
SDM yang terkait. Pelatihan-pelatihan yang dimaksudkan disamping memiliki
sasaran untuk aspek peningkatan kompetensi pengetahuan dan ketrampilan, juga
dapat merealisasikan kompetensi di bidang sikap atau attitude di bidang
penerapan TI, seperti integritas dari SDM terkait untuk memperlakukan data
secara positif dan konfidensial, atau menyadari bahwa dengan penerapan TI
didapatkan kondisi yang jauh lebih baik dalam berkarier di BPR pada masa-masa
selanjutnya.
Kelima, mengelola manajemen perubahan. Transformasi dari manual ke digital atau komputerisasi di
BPR, membutuhkan sentuhan dari strategi mengelola perubahan. Tak dapat
dipungkiri, bisa saja ada beberapa SDM yang menolak perubahan, baik karena
alasan psikologis, sosiologis, maupun rasional. Pengurus BPR harus mampu memotivasi
dan menularkan urgensi atau visi perubahan transformasi dari manual ke digital
atau ke habit TI di BPR, dan visi itu harus dapat mengarahkan dan menuntun
seluruh SDM mencapai perubahan tersebut.
Keenam, vendor TI sebagai mitra BPR. Para vendor yang menjadi
mitra BPR dalam mengelola penerapan dan pengembangan TI, sudah sebaiknya bisa
mengakomodir kebutuhan dan perkembangan terbaru di BPR dalam software yang
digunakan, seperti akomodasi berbagai peraturan yang terkait dengan pengelolaan
BPR, seperti Prinsip mengenal Nasabah (pengelompokan resiko nasabah, pembuatan
dan pengkinian profil nasabah), SID, Laporan-Laporaan Keuangan BPR,
Restrukturisasi Kredit, Penerapan Transparansi, BMPK, dan lain-lain serta
implementasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan Perbankan, seperti SAK
ETAP, PA BPR.
(*Penulis adalah Training Leader JFI atau
Jakarta Financial Institute, E-mail : jfipusat@gmail.com, Telp.
081318967743)
Langganan:
Postingan (Atom)


