Selasa, 21 Februari 2017

#Menjadi AO BPR yang Membanggakan

Menjadi AO BPR yang Membanggakan
Oleh : Kardi JFI*
            Menjadi Account Officer (AO) atau Pemasar BPR yang membanggakan merupakan hal-hal yang diharapkan oleh setiap insan di BPR.  AO yang membanggakan, pasti  dibanggakan oleh internal BPR, maupun para Nasabah. AO BPR yang membanggakan disamping sangat disenangi di BPR, ia juga dapat secara efektif mendapatkan nasabah, mempertahankan nasabah, melakukan program yang terkait dengan peningkatan kepuasaan nasabah untuk membangun loyalitas nasaabah, meningkatkan nilai nasabah, meningkatkan penjualan produk BPR, menangani masalah tagihan kredit secara efektif dan mampu bekerjasama dalam tim secara baik, yang karenanya dapat meningkatkan kinerja dan daya saing BPR.
Apa saja kriteria AO BPR yang membanggakan ? Dalam bahasa Inggris, kata  “bangga” dikenal dengan sebutan PRIDE. Dari kata “PRIDE” tersebut paling tidak ada 5 karakteristik AO yang membanggakan. Pertama, Persistence atau ketekunan. Selalu kerja keras, yang diiringi dengan ketekunan merupakan ciri khas dari seorang AO yang membanggakan. Rangkaian kegiatan yang dilakukan tidak lepas dari ketekunan, seperti tekun mencari calon nasabah, tekun melakukan penawaran, tekun menjalankan presentasi, tekun menjalankan penagihan, membina  hubungan baik dengan nasabah secara kontinu dan konsisten.
            Kedua, Reliability atau dapat diandalkan. Untuk dapat diandalkan merealisasikan target-target BPR, seorang AO BPR melengkapi diri dengan pengetahuan dan ketrampilan yang mendukung. Diantara hal yang terkait dengan unsur reability, yang karenanya menjadikan AO dapat diandalkan misalnya, adalah memiliki ketrampilan teknik dasar menjual, mampu menjalankan ketrampilan penjualan, mampu memahami STP (Segmentation, Targeting, Posisioning), mampu melakukan analisa kinerja penjualan dan membuat laporannya, mempu mengalisa kredit, mampu membuat proposal kredit, mampu mengenali profil nasabah, dan lain-lain.
      Ketiga, Integrity atau kejujuran atau ketulusan hati.  Kenapa para AO yang membanggakan lebih cepat membangun “trust building” atau lebih cepat dipercaya oleh nasabah ? AO dengan karakteristik seperti itu, memiliki kejujuran atau ketulusan hati yang tinggi.
Keempat,  Disire atau Keinginan. Motivasi atau keinginan untuk melakukan peran atau tugas dari AO yang membanggakan biasanya dipantik dari sisi internal baru dikombinasikan dengan sumber motivasi dari eksternal. Sumber “disire” atau motivasi dari internal itu ditandai dengan kemampuan AO yang menata suasana hati supaya senantiasa positif untuk beraksi dan selalu mau bertanggung jawab walapun tidak ada yang melihat. Sementara motivasi yang berasal dari sisi eksternal misalnya adalah untuk mencapai hal tertentu dan motivasi yang didorong dari rasa takut.
      Kelima, Emphaty atau empati. Kemampuan  dari seorang AO yang membanggakan ditandai dengan kemampuan mereka menjalankan kecerdasan interpersonal pada domain empati, yaitu kemampuan beradaptasi menempatkan diri pada posisi yang dihadapi orang lain, sehingga kualitas pelayanannya benar-benar sepenuh hati atau prima, yang karenanya selalu tampil dengan yang  bergairah atau semangat, progresif, proaktif dan selalu positif.

(*Penulis adalah Training Leader JFI atau Jakarta Financial Institute)

Kamis, 28 Agustus 2014

Catatan Training Leader JFI : Empat Strategi Adaptif Menghadapi Ketidakpastian pada Lingkungan Pemasaran BPR

Empat Strategi Adaptif Menghadapi Ketidakpastian pada Lingkungan Pemasaran  BPR
Oleh : Kardi Jfi*

            Baik karena faktor global (eksternal) maupun lokal (internal), lingkungan pasar BPR atau Bank Perkreditan Rakyat beberapa waktu yang akan datang masih cenderung menghadapi ketidakpastian atau turbulensi.  Faktor dominan yang masih mempengaruhi lingkungan usaha BPR itu  adalah dampak lanjutan dari kebijakan The Fed untuk mengurangi stimulus atau tapering off, yang mengakibatkan naiknya suku bunga. Dalam pada itu,  negara-negara yang selama ini sebagai pusat baru pertumbuhan ekonomi, sudah mulai ada dilanda kelesuan kegiatan ekonomi, seperti yang terjadi di Negara Tiongkok. Sebagaimana yang telah diketahui banyak  komoditi primer dari Indonesia diekspor ke Tiongkok.

            Dampak tapering of, disamping karena beban subsidi BBM, sudah mulai kentara dan terasa dari awal tahun 2014 untuk kegiatan ekonomi nasional. Karena tapering of misalnya, beban APBN pemerintah kian berat, terutama dalam membayar kembali angsuran  utang luar negeri yang telah kian membengkak karena naiknya suku bunga dan melemahnya nilai Rupiah.
Dampak lanjutan kebijakan tapering off dan beban subsidi BBM, merupakan bagian penting yang memicu defisit neraca transaksi berjalan dan defisit anggaran di sini. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah sudah menaikkan beberapa harga barang dan jasa, seperti gas, tarif jalan tol, listrik dan memangkas beberapa program yang didanai dari APBN 2014. Kenaikan beberapa harga yang dimaksudkan turut memicu tingginya inflasi. Disisi lain, BI melalui instrumen kebijakannya berupaya mengerem inflasi, seperti dengan menaikkan uang muka KPR dan KPM.
            Relatif tingginya inflasi dan kondisi persaingan yang tetap makin ketat, termasuk sebagai konsekuensi diterapkannya kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, merupakan bagian penting yang mengakibatkan turbulensi atau ketidakpastian di lingkungan pasar BPR.
Empat Strategi Adaptif
            Untuk memastikan sustainability atau kesinambungan usaha BPR di tengah-tengah menghadapi kondisi turbelensi atau ketidakpastian yang ada tentu memerlukan perubahan, yang dapat dikelompokkan pada 4 strategi. Pertama, strategi sprinter. Karakteristik BPR pada bagian ini menghadapi ketidakpastian yang relatif rendah dan tingkat perubahan yang diperlukan juga adalah rendah. Upaya yang relevan yang dapat dilakukan adalah dengan cara cepat membuat perbaikan tambahan secara berkesinambungan pada model atau strategi pemasaran yang ada selama ini, baik di sisi segmentasi, positioning, targeting, produk, price, promotion, maupun pada saluran penjualan
Kedua, strategi eksperimental. Karakteristik ketidakpastian (unpredictability) yang dihadapi BPR pada bagian ini relatif besar, dan tinfkat perubahan yang diperlukan (degree of change required) adalah kecil. Untuk menjalankan strategi eksperimental ini dapat dilakukan modifikasi model atau strategi pemasaran yang ada selama ini.
Ketiga, strategi migrator. Karakteristik BPR pada bagian ini menghadapi tingklat ketidakpastian yang relatif rendah, dan tingkat perubahan yang diperlukan adalah tinggi. Strategi dapat dilakukan melalui cara migrasi atau berpindah dari satu model pemasaran yang ada selama ini ke model strategi pemasaran yang lebih menarik.
Keempat,  strategi voyager. Pada bagian ini, BPR menghadapi ketidakpastian yang tinggi serta memerlukan tingkat perubahan yang tinggi. Untuk menghadapinya, dapat dilakukan dengan mengelola perubahan di semua unit atau sistem bisnis atau model permasaran, seperti melaksanakan Business Process Reengineering (“BPR”).
( *Penulis adalah Training Leader JFI

Sabtu, 09 November 2013

Catatan Kardi JFI, Training Leader JFI :"Motivasi dari Hari Pahlawan bagi Insan BPR"

                         Motivasi dari Hari Pahlawan bagi Insan BPR
Oleh : Kardi JFI*
Setiap tanggal 10 Nopember di sini  diperingati sebagai hari Pahlawan. Diperingati sebagai hari Pahlawan, yang adalah bentuk apresiasi bangsa terhadap semangat kepahlawanan perjuangan dari para anak bangsa di Surabaya, yang dipimpin oleh Bung Tomo, dalam mempertahankan kemerdekaan, yang dilandasi dengan motivasi yang luar biasa kuatnya. Saat itu, walapun diperlenggkapi dengan senjata seadanya, dengan semangat juang yang tinggi, pasukan yang dipimpin Bung Tomo menggapai sebuah prestasi untuk bangsa yang kita kenang sepanjang masa, sebagai salah satu simpul penting dalam sejarah peerjuangan bangsa.
Kalau ditelaah lebih mendalam, sesungguhnya masih ada beberapa sumber motivasi penting yang dapat digali dan selanjutnya diterapkan dari hari Pahlawan. Pada bagian berikut, akan dikedepankan 3 (tiga) diantaranya. Pertama, berani atau mati. Kalau dulu di arena perjuangan anak bangsa, dikenal dengan slogan :”Merdeka atau Mati”, maka saat ini pendorong untuk menjadikan BPR tampil sebagai pemenang adalah dengan slogan :”Berani atau Mati (Kalah)”. Berdasarkan data perkembangan lingkungan persaingan bisnis BPR, maka SDM, terutama di garda depan, seperti AO, Kolektor, Pemasaran, Remedial, dan lain-lain, perlu menyakini prinsip “Berani atau Mati” sebagai sumber energi pembangkit motivasi. Harus berani setiap saat, dengan postur fisik “muka sekuat baja, dan hati sekeras besi” untuk mencapai target atau tujuan BPR.
Kedua, never give up. Jangan pernah menyerah. Tantangan tidak pernah berkurang, baik dengan saingan lama atau yang baru. Untuk itu, Don’t Give Up. Kalau toh kegagalan datang, itu harus diyakini sebagai sahabat untuk mencapai kesuksesan yang lebih baik. Supaya memiliki nasib baik, ingatlah kata bijak dari Sineca, yang berkata :”Keberuntungan terletak pada persiapan dan kesempatan”. Ingat, kesempatan selalu ada, lakukanlah banyak persiapan, banyaklah belajar dan banyaklah berlatih.
Ketiga, seperti air yang tenang. Dalam air yang tenang, kita dapat melihat bayangan kita – kita dapat mengetahui kemampuan kita, yang kita gunakan dalam menghapi kompetisi yang kian berat. Untuk bisa tenang dalam menghadapi setiap masalah atau krisis, maka kombinasikanlah komponen IQ, EQ dan SQ dengan harmonis. Untuk itu, menata pikiran, emosi, keyakinan setiap hari supaya positif, adalah sumber ketenangan dan kebijaksanaan yang luar biasa.

Salam hari Pahlawan….Milikikah motivasi Pahlawan dan jadilah Pemenang. 
(*Penulis adalah Training Leader pada JFI).

Dokumentasi Training JFI :"Penilaian Agunan Kredit BPR" di Hotel Nalendra 13 Juli 2013



Dokumentasi Training JFI :"Meningkatkan Kinerja Penagihan melalui 8 Kebiasaan yang Efektif" di Hotel Mercure 17 Juli 2013



Minggu, 27 Oktober 2013

Catatan Training Leader JFI :"Sumber Motivasi SDM BPR dari Sumpah Pemuda"

SUMBER  MOTIVASI SDM BPR  DARI  SUMPAH PEMUDA
Oleh : Kardi Jfi*

Tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda yang antara lain yang diprakarsai Budi Utomo, mengikrarkan Sumpah Pemuda, dengan kandungan utama : 1) berbangsa satu; 2) bertanah air satu; 3) berbahasa satu, yaitu Indonesia. Sumpah Pemuda, tak dapat dipungkiri merupakan bagian penting dalam pembentukan Negara Indonesia, yang dilandasi dengan semangat persatuan dan kesatuan nasional. Mungkin saja, kalau tidak ada Sumpah Pemuda, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sulit terealisasi.
Apa makna Sumpah Pemuda masa kini ? Sebetulnya banyak sumber motivasi yang terkandung di sana, yang kalau dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan dapat mendukung pencapaian sukses dalam berbagai bidang. Diantaranya, pada kesempatan ini dikedepankan 4 sumber motivasi dari Sumpah Pemuda.
 Pertama, membuat bermakna. Sebagian besar masyarakat di sini pasti mengetahui bahwa 28 Oktober itu ada hari Sumpah Pemuda. Kenapa ? Karena Sumpah Pemuda merupakan simpul penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Dengan demikian, Sumpah Pemuda memiliki makna yang penting. Semakin bermakna, semakin mudah diingat. Rencana, target, action plan, berbagai ketentuan di BPR misalnya, akan mudah diingat manakala SDM telah membuat dan menyakini bahwa BPR adalah bermakna. Kenapa sesuatu bisa bermakna ? Karena cinta bukan…? Jadi, kalau NPL jatuh atau ROA turun, manakala kinerja menurun, maka perlu jatuh cinta lagi rasanya kepada BPR atau memaknai kembali BPR.
Kedua, tidak mudah putus asa. Lingkungan perjuangan Pemuda pada 28 Oktober 1928 adalah sangat berat. Mereka dapat mengikrarkan Sumpah Pemuda ditengah-tengah tantangan yang sangat berat dari Kolonial Belanda dan mereka tidak takut salah. Kondisi ini juga dihadapi BPR sekarang kan ?  Jadi, jangan pernah mudah putus asa dan jangan takut salah di tengah-tengah tantangan membangunan karya di BPR. Try…Try….Try…Don’t Cry. Tetap miliki antusiasme yang tinggi dan tekad yang membaja.
Ketiga, emosi positif. Emosi positif dari para pemuda pada 28 Oktober 1928 telah mampu membangun roh kebanggaan dan keberanian untuk mengikrarkan sumpah pemuda. Emosi positif mereka itu antara lain adalah bangga menjadi Pemuda Indonesia, tidak takut, tidak kuatir, tidak  lekas marah-marah, tidak sombong, tidak mudah depresi, mampu mengatasi kebosanan, tidak rendah diri tetapi mereka rendah hati. Menurut Anthony Robins, emotion creates motion. Jadi, emosi positif pada akhirnya menghasilkan hal yang positif. Jadi, perlu setiap hari memprogram atau menata emosi supaya positif.
Keempat, bekerjasama. Semangat kerjasama sangat dibutuhkan untuk mengukir prestasi di BPR. Pemuda Indonesia, walapun terdiri dari berbagai suku, golongan, bahasa, daerah, agama, sampai mengikrarkan Sumpah Pemuda melalui kerjasama, dan menghindari bekerja atau berjuang sendiri. Sumber motivasi tersebut dapat dijadikan setiap insan BPR, dalam menguwujudkan berbagai perubahan ke tempat yang lebih baik. Untuk mengefektifkan kerjasama pada organisasi BPR, setiap insan BPR, harus terbiasa mendengar satu sama lain, terbuka, menyamakan persepsi, komunikasi yang efektif dan untuk kondisi tertentu dibuka peluang komunikasi empat mata. Satu lidih mudah dipatahkan, tetapi seikat lidih sangat susah dipatahkan. Kinerja BPR akan tinggi dengan pilar yang kuat manakala sikap bekerjasama sudah menjadi karakter SDM BPR.

 (*Penulis adalah Training Leader JFI)

DOKUMENTASI TRAINING JFI DI HOTEL AMARIS PEKANBARU 15 AGUSTUS 2013


DOKUMENTASI TRAINING JFI :"PENILAIAN AGUNAN KREDIT" DI DI HOTEL AMARIS  PEKANBARU  15 AGUSTUS  2013