Kamis, 28 Agustus 2014

Catatan Training Leader JFI : Empat Strategi Adaptif Menghadapi Ketidakpastian pada Lingkungan Pemasaran BPR

Empat Strategi Adaptif Menghadapi Ketidakpastian pada Lingkungan Pemasaran  BPR
Oleh : Kardi Jfi*

            Baik karena faktor global (eksternal) maupun lokal (internal), lingkungan pasar BPR atau Bank Perkreditan Rakyat beberapa waktu yang akan datang masih cenderung menghadapi ketidakpastian atau turbulensi.  Faktor dominan yang masih mempengaruhi lingkungan usaha BPR itu  adalah dampak lanjutan dari kebijakan The Fed untuk mengurangi stimulus atau tapering off, yang mengakibatkan naiknya suku bunga. Dalam pada itu,  negara-negara yang selama ini sebagai pusat baru pertumbuhan ekonomi, sudah mulai ada dilanda kelesuan kegiatan ekonomi, seperti yang terjadi di Negara Tiongkok. Sebagaimana yang telah diketahui banyak  komoditi primer dari Indonesia diekspor ke Tiongkok.

            Dampak tapering of, disamping karena beban subsidi BBM, sudah mulai kentara dan terasa dari awal tahun 2014 untuk kegiatan ekonomi nasional. Karena tapering of misalnya, beban APBN pemerintah kian berat, terutama dalam membayar kembali angsuran  utang luar negeri yang telah kian membengkak karena naiknya suku bunga dan melemahnya nilai Rupiah.
Dampak lanjutan kebijakan tapering off dan beban subsidi BBM, merupakan bagian penting yang memicu defisit neraca transaksi berjalan dan defisit anggaran di sini. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah sudah menaikkan beberapa harga barang dan jasa, seperti gas, tarif jalan tol, listrik dan memangkas beberapa program yang didanai dari APBN 2014. Kenaikan beberapa harga yang dimaksudkan turut memicu tingginya inflasi. Disisi lain, BI melalui instrumen kebijakannya berupaya mengerem inflasi, seperti dengan menaikkan uang muka KPR dan KPM.
            Relatif tingginya inflasi dan kondisi persaingan yang tetap makin ketat, termasuk sebagai konsekuensi diterapkannya kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, merupakan bagian penting yang mengakibatkan turbulensi atau ketidakpastian di lingkungan pasar BPR.
Empat Strategi Adaptif
            Untuk memastikan sustainability atau kesinambungan usaha BPR di tengah-tengah menghadapi kondisi turbelensi atau ketidakpastian yang ada tentu memerlukan perubahan, yang dapat dikelompokkan pada 4 strategi. Pertama, strategi sprinter. Karakteristik BPR pada bagian ini menghadapi ketidakpastian yang relatif rendah dan tingkat perubahan yang diperlukan juga adalah rendah. Upaya yang relevan yang dapat dilakukan adalah dengan cara cepat membuat perbaikan tambahan secara berkesinambungan pada model atau strategi pemasaran yang ada selama ini, baik di sisi segmentasi, positioning, targeting, produk, price, promotion, maupun pada saluran penjualan
Kedua, strategi eksperimental. Karakteristik ketidakpastian (unpredictability) yang dihadapi BPR pada bagian ini relatif besar, dan tinfkat perubahan yang diperlukan (degree of change required) adalah kecil. Untuk menjalankan strategi eksperimental ini dapat dilakukan modifikasi model atau strategi pemasaran yang ada selama ini.
Ketiga, strategi migrator. Karakteristik BPR pada bagian ini menghadapi tingklat ketidakpastian yang relatif rendah, dan tingkat perubahan yang diperlukan adalah tinggi. Strategi dapat dilakukan melalui cara migrasi atau berpindah dari satu model pemasaran yang ada selama ini ke model strategi pemasaran yang lebih menarik.
Keempat,  strategi voyager. Pada bagian ini, BPR menghadapi ketidakpastian yang tinggi serta memerlukan tingkat perubahan yang tinggi. Untuk menghadapinya, dapat dilakukan dengan mengelola perubahan di semua unit atau sistem bisnis atau model permasaran, seperti melaksanakan Business Process Reengineering (“BPR”).
( *Penulis adalah Training Leader JFI

Sabtu, 09 November 2013

Catatan Kardi JFI, Training Leader JFI :"Motivasi dari Hari Pahlawan bagi Insan BPR"

                         Motivasi dari Hari Pahlawan bagi Insan BPR
Oleh : Kardi JFI*
Setiap tanggal 10 Nopember di sini  diperingati sebagai hari Pahlawan. Diperingati sebagai hari Pahlawan, yang adalah bentuk apresiasi bangsa terhadap semangat kepahlawanan perjuangan dari para anak bangsa di Surabaya, yang dipimpin oleh Bung Tomo, dalam mempertahankan kemerdekaan, yang dilandasi dengan motivasi yang luar biasa kuatnya. Saat itu, walapun diperlenggkapi dengan senjata seadanya, dengan semangat juang yang tinggi, pasukan yang dipimpin Bung Tomo menggapai sebuah prestasi untuk bangsa yang kita kenang sepanjang masa, sebagai salah satu simpul penting dalam sejarah peerjuangan bangsa.
Kalau ditelaah lebih mendalam, sesungguhnya masih ada beberapa sumber motivasi penting yang dapat digali dan selanjutnya diterapkan dari hari Pahlawan. Pada bagian berikut, akan dikedepankan 3 (tiga) diantaranya. Pertama, berani atau mati. Kalau dulu di arena perjuangan anak bangsa, dikenal dengan slogan :”Merdeka atau Mati”, maka saat ini pendorong untuk menjadikan BPR tampil sebagai pemenang adalah dengan slogan :”Berani atau Mati (Kalah)”. Berdasarkan data perkembangan lingkungan persaingan bisnis BPR, maka SDM, terutama di garda depan, seperti AO, Kolektor, Pemasaran, Remedial, dan lain-lain, perlu menyakini prinsip “Berani atau Mati” sebagai sumber energi pembangkit motivasi. Harus berani setiap saat, dengan postur fisik “muka sekuat baja, dan hati sekeras besi” untuk mencapai target atau tujuan BPR.
Kedua, never give up. Jangan pernah menyerah. Tantangan tidak pernah berkurang, baik dengan saingan lama atau yang baru. Untuk itu, Don’t Give Up. Kalau toh kegagalan datang, itu harus diyakini sebagai sahabat untuk mencapai kesuksesan yang lebih baik. Supaya memiliki nasib baik, ingatlah kata bijak dari Sineca, yang berkata :”Keberuntungan terletak pada persiapan dan kesempatan”. Ingat, kesempatan selalu ada, lakukanlah banyak persiapan, banyaklah belajar dan banyaklah berlatih.
Ketiga, seperti air yang tenang. Dalam air yang tenang, kita dapat melihat bayangan kita – kita dapat mengetahui kemampuan kita, yang kita gunakan dalam menghapi kompetisi yang kian berat. Untuk bisa tenang dalam menghadapi setiap masalah atau krisis, maka kombinasikanlah komponen IQ, EQ dan SQ dengan harmonis. Untuk itu, menata pikiran, emosi, keyakinan setiap hari supaya positif, adalah sumber ketenangan dan kebijaksanaan yang luar biasa.

Salam hari Pahlawan….Milikikah motivasi Pahlawan dan jadilah Pemenang. 
(*Penulis adalah Training Leader pada JFI).

Dokumentasi Training JFI :"Penilaian Agunan Kredit BPR" di Hotel Nalendra 13 Juli 2013



Dokumentasi Training JFI :"Meningkatkan Kinerja Penagihan melalui 8 Kebiasaan yang Efektif" di Hotel Mercure 17 Juli 2013



Minggu, 27 Oktober 2013

Catatan Training Leader JFI :"Sumber Motivasi SDM BPR dari Sumpah Pemuda"

SUMBER  MOTIVASI SDM BPR  DARI  SUMPAH PEMUDA
Oleh : Kardi Jfi*

Tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda yang antara lain yang diprakarsai Budi Utomo, mengikrarkan Sumpah Pemuda, dengan kandungan utama : 1) berbangsa satu; 2) bertanah air satu; 3) berbahasa satu, yaitu Indonesia. Sumpah Pemuda, tak dapat dipungkiri merupakan bagian penting dalam pembentukan Negara Indonesia, yang dilandasi dengan semangat persatuan dan kesatuan nasional. Mungkin saja, kalau tidak ada Sumpah Pemuda, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sulit terealisasi.
Apa makna Sumpah Pemuda masa kini ? Sebetulnya banyak sumber motivasi yang terkandung di sana, yang kalau dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan dapat mendukung pencapaian sukses dalam berbagai bidang. Diantaranya, pada kesempatan ini dikedepankan 4 sumber motivasi dari Sumpah Pemuda.
 Pertama, membuat bermakna. Sebagian besar masyarakat di sini pasti mengetahui bahwa 28 Oktober itu ada hari Sumpah Pemuda. Kenapa ? Karena Sumpah Pemuda merupakan simpul penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Dengan demikian, Sumpah Pemuda memiliki makna yang penting. Semakin bermakna, semakin mudah diingat. Rencana, target, action plan, berbagai ketentuan di BPR misalnya, akan mudah diingat manakala SDM telah membuat dan menyakini bahwa BPR adalah bermakna. Kenapa sesuatu bisa bermakna ? Karena cinta bukan…? Jadi, kalau NPL jatuh atau ROA turun, manakala kinerja menurun, maka perlu jatuh cinta lagi rasanya kepada BPR atau memaknai kembali BPR.
Kedua, tidak mudah putus asa. Lingkungan perjuangan Pemuda pada 28 Oktober 1928 adalah sangat berat. Mereka dapat mengikrarkan Sumpah Pemuda ditengah-tengah tantangan yang sangat berat dari Kolonial Belanda dan mereka tidak takut salah. Kondisi ini juga dihadapi BPR sekarang kan ?  Jadi, jangan pernah mudah putus asa dan jangan takut salah di tengah-tengah tantangan membangunan karya di BPR. Try…Try….Try…Don’t Cry. Tetap miliki antusiasme yang tinggi dan tekad yang membaja.
Ketiga, emosi positif. Emosi positif dari para pemuda pada 28 Oktober 1928 telah mampu membangun roh kebanggaan dan keberanian untuk mengikrarkan sumpah pemuda. Emosi positif mereka itu antara lain adalah bangga menjadi Pemuda Indonesia, tidak takut, tidak kuatir, tidak  lekas marah-marah, tidak sombong, tidak mudah depresi, mampu mengatasi kebosanan, tidak rendah diri tetapi mereka rendah hati. Menurut Anthony Robins, emotion creates motion. Jadi, emosi positif pada akhirnya menghasilkan hal yang positif. Jadi, perlu setiap hari memprogram atau menata emosi supaya positif.
Keempat, bekerjasama. Semangat kerjasama sangat dibutuhkan untuk mengukir prestasi di BPR. Pemuda Indonesia, walapun terdiri dari berbagai suku, golongan, bahasa, daerah, agama, sampai mengikrarkan Sumpah Pemuda melalui kerjasama, dan menghindari bekerja atau berjuang sendiri. Sumber motivasi tersebut dapat dijadikan setiap insan BPR, dalam menguwujudkan berbagai perubahan ke tempat yang lebih baik. Untuk mengefektifkan kerjasama pada organisasi BPR, setiap insan BPR, harus terbiasa mendengar satu sama lain, terbuka, menyamakan persepsi, komunikasi yang efektif dan untuk kondisi tertentu dibuka peluang komunikasi empat mata. Satu lidih mudah dipatahkan, tetapi seikat lidih sangat susah dipatahkan. Kinerja BPR akan tinggi dengan pilar yang kuat manakala sikap bekerjasama sudah menjadi karakter SDM BPR.

 (*Penulis adalah Training Leader JFI)

DOKUMENTASI TRAINING JFI DI HOTEL AMARIS PEKANBARU 15 AGUSTUS 2013


DOKUMENTASI TRAINING JFI :"PENILAIAN AGUNAN KREDIT" DI DI HOTEL AMARIS  PEKANBARU  15 AGUSTUS  2013


Selasa, 15 Oktober 2013

Catatan Training Leader JFI :"Keterkaitan Produk Asuransi dengan BPR"

Keterkaitan Produk Asuransi dengan BPR
Oleh : Kardi JFI*

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) merupakan salah satu bisnis institusi keuangan yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan, khususnya dalam enam tahun terakhir. Mengingat hal tersebut, maka diperlukan berbagai upaya supaya bisnis BPR dapat bertumbuh dan berkembang secara lebih baik lagi. Salah satu upaya lain yang dapat ditempuh untuk mengwujudkan hal tersebut adalah semakin meningkatkan keterkaitan (linkage) bisnis BPR dengan bisnis lembaga-lembaga keuangan lainnya, seperti asuransi misalnya.  Karena tak dapat dipungkiri keterkaitan bisnis Asuransi dan BPR masih belum maksimal dilakukan selama ini.
            Bila dicermati keterkaitan antara Bank Umum dan Asuransi dapat dikatakan sudah berlangsung dalam waktu yang lama. Sebagian besar penyaluran dana premi dari nasabah asuransi, baik dari asuransi jiwa maupun dari asuransi umum atau kerugian,  ditempatkan pada instrumen Deposito pada Bank Umum. Keterkaitan produk bank umum dengan asuransi selama ini di sini dikenal dengan istilah bancassurance.
            Apa saja keterkaitan bisnis yang dapat dilakukan perusahaan asuransi dengan BPR, khususnya dalam membentuk rantai nilai (value chain) yang saling menguntungkan.  Pertumbuhan kredit yang disalurkan BPR dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami pertumbuhan. Untuk untuk pertumbuhan portofolio kredit yang relative besar  itu, tentu diperlukan juga prospek bisnis asuransi, baik dalam produk asuransi jiwa kredit maupun asuransi jaminan kredit. Sudah sebaiknya potensi yang baik tersebut dapat digarap oleh industri asuransi.
            Produk asuransi, seperti asuransi jiwa kredit maupun asuransi untuk menjamin agunan kredit, memang diperlukan oleh BPR dalam rangka mengelola resiko kredit bagi BPR. Hanya saja selama ini, masih belum begitu tinggi penetrasi promosi produk asuransi kepada BPR.  Mengingat hal tersebut, maka untuk menciptakan keterkaitan usaha yang produktif, sudah sebaiknya perusahaan asuransi dengan baik menangani  implementasi produk asuransi bagi BPR. Disamping itu, seiring dengan perkembangan yang semakin kentara pada BPR, para pekerja BPR tentunya membutuhkan produk asuransi, seperti asuransi jiwa, ansuransi pensiun, asuransi kesehatan, dan lain-lain.


Terganjal KMK        
Dari sisi BPR, apa kira-kira produk yang dapat dipergunakan oleh perusahaan asuransi. Tentu, jawabnya adalah produk yang terkait dengan produk funding, seperti Deposito berjangka.  Hanya saja, hubungan mesra antara perusahaan asuransi dengan BPR saat ini terganjal dengan salah satu Keputusan Menteri Keuangan (KMK), yaitu  KMK No : 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, sebagaimana disempurnakan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 135/PMK.05/2005. Ketentuan tersebut kurang mendukung perusahaan asuransi untuk menempatkan deposito pada BPR, yaitu tidak diperhitungkan dalam penentuan Risk Base Capital (RBC) asuransi, karenanya sampai saat ini, perusahaan asuransi belum leluasa menempatkan dananya pada BPR. Marilah kita simak isi pasal 1 ayat 1 KMK No.424/KMK.06/2003. Disana dikatakan :”Bank adalah Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang Perbankan”. Jadi, pengertian bank pada KMK tersebut, tidak termasuk BPR. Dalam KMK yang dimaksudkan, diatur batasan penempatan Deposito perusahaan asuransi yang diikutkan dalam perhitungan RBC adalah penempatan Deposito perusahaan asuransi pada Bank Umum. Berdasarkan pasal 1 ayat 1 KMK No.424/KMK.06/2003,  kalau perusahaan asuransi menempatkan deposito pada BPR tidak diiuktsertakan dalam perhitungan RBC (sejenis CAR diperbankan).
            Untuk mendukung keterkaitan sistem finansial, maka menteri keuangan ada baiknya menyempurnakan ketentuan pembatasan bagi perusahaan asuransi untuk menempatkan dananya di BPR. Tentu, ada beberapa alasan yang berkenaan dengan hal tersebut. Pertama, ditengah-tengah telah berlakunya ketentuan Lembaga Penjaminan Simpanan  (LPS) di perbankan sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 24/2004, maka ketentuan KMK No.424/KMK.06/2003  membatasi perusahaan asuransi melakukan penempatan dalam bentuk deposito di BPR sebaiknya segera diperbaharui. Saat ini, dana simpanan di Bank Umum dan BPR sudah sama-sama dijamin.
Kedua, kecenderungan semakin baiknya pengawasan BPR oleh Bank Indonesia, khususnya melalui Direktorat pengawasan BPR. Disamping terus meningkatkan penagawasan BPR, saat ini Bank Indonesia, juga aktif mendukung pengaturan untuk semakin efektifnya penagawasan BPR, seperti melalui PBI (Peraturan Bank Indonesia) Nomor : 7/51/PBI/2005 jo Surat Edaran Direktorat Pengawasan BPR Bank Indonesia Nomor : 8/7/DPBPR/2006 tentang Laporan Bulanan BPR, sudah disampaikan secara elektronis kepada Bank Indonesia. Dalam pada itu, untuk mendukung transparansi keuangan BPR, semenjak 5 Oktober 2006 yang lalu Bank Indonesia, telah mengundangkan PBI No 8/20/PBI/2006 tentang Transparansi Kondisi Keuangan BPR.  Dalam pada itu, system akuntansi pada BPR sudah menerapkan pedomanan akutansi yang baru melalui penerapan SAK ETAP dan PA BPR.
Pada masa lalu, memang ada BPR yang sulit melakukan pencairan Deposito para nasabahnya, tetapi untuk saat ini, hal seperti itu sudah tipis kemungkinan terjadinya, apalagi dengan berlakunya lembaga pejaminan simpanan (LPS), PBI No.7/6/PBI/2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah, PBI No.7/7/PBI/2005 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah.
Diperkirakan ketika pengawasan BPR beralih ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka pengawasan pada usaha BPRberpotensi  cenderung semakin baik.
Ketiga, suku bunga. Suku bunga deposito di BPR, masih cenderung lebih baik bila dibandingkan dengan bank umum. Dengan demikian, return investasi deposito di BPR masih cenderung lebih menarik.
Keempat, untuk mendukung terciptanya kesetimbangan volume usaha diantara industri finansial, maka perlu diberikan kesempatan kepada perusahaan asuransi untuk dapat menempatkan deposito di BPR. Fakta emperik menyatakan, ketika sebagian besar bank umum bermasalah di penghujung tahun 1997 sampai tahun 1998 yang lalu, menimbulkan krisis ekonomi yang relatif lama. Saat itu volume usaha industri finansial berada di tangan bank umum.
Akhirnya,  penempatan dana  perusahaan asuransi akan cenderung lebih besar ke BPR  kalau ketentuan KMK No.424/KMK.06/2003 yang membatasi perusahaan asuransi membatasi penempatan depositonya pada BPR dapat diperbaiki. Untuk hal tersebut, sudah sebaiknya Menteri Keuangan dapat menyempurnakan ketentuan pasal 1 ayat 1 KMK No.424/KMK.06/2003 yang berisi batasan  bagi perusahaan asuransi untuk menempatkan deposito pada BPR. Bila hal tersebut dapat dilakukan, penyebaran portofolio investasi pada industri keuangan akan kian tersebar dengan, sehingga resikonya pun cenderung lebih mudah dikendalikan secara nasional.
            Supaya keterkaitan antara perusahaan asuransi dengan BPR dapat menciptakan rantai nilai yang saling menguntungkan, maka masing-masing para pihak haruslah menyajikan pelayanan prima dan saling menguntungkan. Misalnya, kalau muncul resiko yang diasuransikan BPR, maka diharapkan perusahaan asuransi dengan cepat dapat melayaninya sesuai dengan kontrak polis asuransi. Begitu juga BPR yang mengelola portofolio deposito perusahaan asuransi misalnya, sudah sebaiknya melakukan penghitungan dan pembayaran bunga secara akurat dan tepat waktu.
            Peningkatan keterkaitan perusahaan  asuransi dengan BPR akan besar artinya dalam mendukung peningkatan volume usaha perusahaan asuransi dan BPR. Oleh karena itu, instansi yang terkait dengan pembinaan dan penagawasn asuransi, sudah seharusnya melakukan berbagai kebijakan yang positif dan konstruktif untuk mendukung peningkatan keterkaitan perusahaan asuransi dengan BPR. Semoga.

( *Penulis adalah Training Leader pada JFI  dan Advokat, serta  Alumnus Program Hukum Kegiatan Ekonomi FH-UI,  PIN BB = 27DA4B26, Email = jfipusat@gmail.com )